Senin, 30 Juli 2018

Kerajinan Peci



SENTRA PECI DUSUN GURBAK


Sudah bukan rahasia umum bahwa peci atau songkok menjadi salah satu warna bagi kebudayaan bangsa Indonesia. Keberadaanya tersebar dari sabang sampai merauke, dari pelosok desa sampai hingar bingar sebuah kota. Jangkauan pasarnya mulai dari tingkat lokal sampai tingkat global yang menjadikan peci ini sebagai salah satu produksi unggulan bagi beberapa pengusaha di Indonesia. Sekilas peci atau songkok merupakan barang yang sangat sederhana. Tapi dibalik kesederhaan  itu terkandung sebuah keistimewaan yang luar biasa. Keistimewaan pertama,  selain dapat dugunakan pada hari-hari besar islam, peci juga dapat digunakan untuk melakukan ibadah shalat, dalam acara pesta-pesta resmi seperti pernikahan, khitanan dan pada acara keagamaan lainnya. Keistimewaan kedua, meskipun peci identik dengan simbol seorang muslim, namun peci juga dapat digunakan bagi orang Non Muslim. Karena pada dasarnya peci merupakan warisan kebudayaan bangsa Indonesia  yang dalam peggunaanya tidak membedakan antara ras, suku, maupun agama.

                Di mata dunia, peci atau songkok merupakan pakaian khas Asia Tenggara ksusunya Brunei Darusalam,  Malaysia dan Indonesia.  Di Indonesia sendiri banyak produsen peci atau songkok dengan beragam merk, motif dan kualitas.  Produsen peci dan songkok ini mayoritas masih dalam bentuk UKM ( Usaha Kecil dan Menengah) dengan jumlah modal dan produksi yang masih terbatas, Selain itu pekerjanya juga dari lingkungan masyarakat sekitarnya. namun meskipun demikian, keberadanya sebagai salah satu penggerak perekonomian Nasional. Seperti yang di lansir kompasiana pada tanggal 24 Agustus  2017, Terbukti  Koperasi dan UKM menjadi salah satu penyumbang bagi devisa negara yang jumlahnya mencapai Rp 88, 45 miliar. Hal ini membuktikan bahwa pentingnya adanya UKM bagi masing-masing daerah.
                Dari berbagai UKM  peci atau songkok di Indonesia, salah satunya ada di Dusun Gurbak. Sebuah Dusun kecil dan merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Pangongsean, kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang Madura. Menjadi dusun yang paling kurang fasilitasnya  tidak menjadikan warga nya ketergantungan dari bantuan  pemerintah. Hal itu di buktikan salah seorang warga yang mempunyai jiwa entrepreneur yang tinggi. Bapak Heri,  Merupakan warga yang menekuni bisnis peci sejak tahun 2004.
                Di temui peserta KKN 54 di rumahnya, bapak heri begitu beliau disapa berujar jika sejak awal pihaknya memang kesulitan menerapkan bisnis peci di daerah tempat tinggalnya. Hal tersebut dikarenakan dusun yang di tempati usaha sangat jauh dari keramaian ”awal-awal membuka usaha ini memang sangat sulit, karena faktor lokasi yang jauh dari pusat kota”. Begitu tuturnya.  Butuh waktu berbulan-bulan untuk mengenalkan produk peci buatanya kepada masyarakat luas. Sebagai pemula bisnis tersebut, bapak Heri sadar harus berjuang keras dalam memperkenalkan dan memasarkan produk peci buatanya. Tidak-tanggung-tanggung waktu itu bapak Heri langsung menyasar wilayah Surabaya yang dikenal sebagai kota metropolitan terbesar kedua setelah Ibu Kota Jakarta. Pak Heri memilih ”Makam Sunan Ampel Surabaya” sebagai jalan merintis karirnya sebagai pengusaha. Usaha pak Heri tidak lah sia-sia, Man Jadda Wa Jada begitulah pepatah islam berkata. Dari penjualan di lingkungan makam Sunan Ampel itulah Produk peci buatan nya di kenal dan disukai banyak orang dan kemudian mulai di sebarluaskan ke seluruh wilayah Surabaya.  Dan sampai detik ini produk peci buatan pak Heri mendominasi empat kabupaten yang ada di Pulau Madura, yaitu, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Di bantu dengan 3 tenaga produksinya, saat ini dalam sebulan bapak Heri rata-rata bisa memproduksi hingga 20 kodi. Peci-peci tersebut kemudian dipasarkan dengan harga yang bervariasi, yakni Rp 30.000,00 s. d. Rp 50.000,00/ pcs. Dengan harga yang cukup tejangkau tentu menjadi salah satu alternatif bagi anda yang ingin membeli sebuah peci yang berkualitas.
                Untuk mengantisipasi kejenuhan pasar terhadap produk peci kreasinya, Pak Heri mulai menambahkan sentuhan warna kepada peci buatnya. pada awalnya hanya memproduksi peci hitam. Namun,  beberapa tahun terakhir mulai membuat peci dengan warna yang mencolok seperti putih, dan ada banyak warna lainya, di tambah sentuhan motif yang menarik sehingga memperlihatkan kesan estetik bagi siapapun yang memakainya. “ untuk megatasi kebosanan konsumen, saya berusaha menampilkan peci dengan warna yang mencolok dan khas di padukan dengan berbagai motif” begitu imbuhnya. Untuk produk-produk tersebut saat ini hanya di pasarkan diwilayah Suarabaya dan Madura, karena keterbatasan dalam kapasitas produksi.
Jika penasaran dengan produk peci dari pak Heri, bisa langsung datang ke lokasi produksinya yaitu di Dusun Gurbak Desa Pangongsean, Sampang Madura. Atau jika anda sedang melakukan perjalanan ke Surabaya, anda bisa mendatangi Kawasan ziarah makam “Sunan Ampel Surabaya” karena di lokasi tersebut peci produksi pak Heri sudah sangat di kenal karena ciri khasnya.
Foto bersama peserta KKN 54 dan pemilik produk peci
Salah satu motif peci


Tidak ada komentar:

Posting Komentar