Kamis, 26 Juli 2018

Potret pendidikan


SEMANGAT BELAJAR DI TENGAH KETERBATASAN
Salah satu aspek yang seharusnya mendapat perhatian utama oleh setiap pengelola pendidikan adalah mengenai fasilitas pendidikan. Sarana pendidikan pada umunya mencangkup semua fasilitas yang secara langsung dipergunakan dan untuk menunjang proses dalam belajar, seperti gedung, ruang belajar atau kelas, alat-alat atau media pendidikan dan sebagainya. Sudah bukan rahasia umum dalam proses pendidikan, bahwa kualitas pendidikan tersebut juga didukung dengan sarana dan prasarana yang menjadi standar sekolah atau isntansi pendidikan yang terkait.  Secara tidak langsung sarana dan prasarana juga sangat mempengaruhi kualitas belajar bagi siswa didik.
Dari hasil observasi dan wawancara yang kami lakukan, kondisi yang berbeda justru terjadi di beberapa sekolah yang ada di desa Pangongsean. Diantaranya adalah sekolah TK Tunas Bangsa. sekolah ini berdiri sejak tahun 2001 yang di rintis  oleh bapak Ali Nizar dengan memakai dana swadaya keluarga. Sekolah ini hanya memiliki dua ruangan kelas dan satu ruangan yang  berada di emperan rumah warga. Minimnya tempat sampah yakni hanya 1 buah yang dimiliki sekolah tersebut, taman bermain, dan minimnya bangku belajar yang menjadikan suasana belajar kurang nyaman, dengan salah satu ruang yang terbuka, jika matahari terik maka akan cukup mengganggu proses belajar mengajar karena tidak adanya penghalang sinar matahari yang masuk dalam ruangan belajar mereka. Beberapa usaha sudah diupayakan oleh pengurus ataupun para tenaga didik diantara yaitu dengan mengajukan permintaan penambahan gedung oleh pemangku kebijakan, namun upaya tersebut belum bisa direalisasikan oleh pemeintah setempat dengan alasan menunggu giliran dan diminta untuk bersabar.
“hanya ada tiga ruangan kelas di sekolah TK ini, itupun yang satu ada di emperan warga karena dua ruangan kelas tidak mampu menampung jumlah siswa didik yang cukup banyak. Sempat beberapa kali saya dan pengurus lain mengajukan permohonan kepada kepala desa Pangongsean untuk penambahan gedung, namun alasanya harus menunggu giliran dan bersabar.”. (tutur salah satu guru saat kami jumpai di sekolah).
(Proses belajar di teras rumah warga)
Kondisi yang sama juga terjadi di SDN 2 Pangongseaan, minimnya fasilitas infrastrukur pendidikan juga masih mewarnai dalam proses belajar mengajar. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah adanya beberapa gedung sekolah yang roboh dan hampir rata dengan tanah, genteng, tembok dan bangunan penyokong lain sudah hampir tidak ada. Dampaknya adalah para siswa harus bergantian dan berdesak-desakan dengan siswa yang lain. Setalah di konfirmasi lebih lanjut bangunan tersebut roboh karena usianya sudah cukup tua sehingga mengaharuskan renovasi, bukan tidak mungkin bangunan yang masih berdiri juga akan mengalami kondisi yang sama jika tidak segera di perbaiki. Mengingat  juga terdapat retakan sana-sini.
(Sebagian sisi bangunan kelas)
Kekurangan infrastruktur juga di alami oleh “Yayasan Nurul Iman”. Yayasan ini terdiri dari MI dan SMPI. Banyak fasilitas yang tidak ada pada sekolah tersebut seperti tidak adanya tempat sampah, ruang perpustakaan, sampai dengan kurangnya meja belajar bagi  murid-murid. Tentu ini sangat mengganggu proses belajar dan mengajar. Para murid juga terkesan dibiarkan begitu saja . contoh kecil, banyak murid yang tidak memakai sepatu, keluyuran saat proses belajar berlangsung, tidak memakai seragam dan masih banyak lagi. Tidak jarang sering terjadi jam kosong saat pelajaran karena banyak dari tenaga pendidik tidak masuk  bahkan sering meninggalkan sekolah saat pelajaran berlangsung. Salah satu faktor penyebabnya adalah, semua tenaga didik yang mengajar di “Yayasan Nurul Iman” adalah pegawai honorer. Yang mengharuskan mereka mencari penghasilan lain diluar penghasilan sebagai guru.
kalau mengajar disini tidak usah kaget mas, ya seperti ini kondisinya. Banyak kelas yang kosong karena banyak guru yang tidak datang. Maklum, semua guru disini pegawai honorer jadi mereka sering tidak masuk, bahkan sering meninggalkan kelas untuk mencari tambahan penghasilan lain selain sebagai guru karena untuk mencukupi kebutuhan”. (Tutur salah satu guru”)
kegiatan mengajar kelompok kkn 54



melihat kondisi tersebut, kelompok KKN 54 universitas Trunojoyo Madura, berusaha membantu dengan seadanya, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah dengan membantu mengajar di berbagai kelas yang kosong. Meskipun dengan segala keterbatasan infrastruktur, terlihat semangat yang membara dari jiwa-jiwa kecil yang haus akan pengetahuan yang baru.  Tentu hal tersebut harus menjadi prioritas bagi program kerja yang harus segera di laksanakan. Semoga dengan adanya data ini dapat menjadi bahan evalusai bagi pemerintah setempat. Karena, tidak dapat di pungkiri bahwa  fasilitas infrastruktur sangat dibutuhkan sebagai penunjang sarana belajar dan mengajar bagi guru maupun siswa didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar